Bank Indonesia Catat Likuiditas Perekonomian M2 Capai Rp10.448 Triliun pada Agustus 2026

JAKARTA — Bank Indonesia (BI) merilis data terbaru mengenai posisi likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) untuk periode Agustus 2026. Berdasarkan laporan Bank Sentral, jumlah uang beredar M2 di Indonesia secara konsisten terus mencatatkan tren pertumbuhan positif, hingga menembus angka Rp10.448 triliun.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi nasional dan penyaluran dana masyarakat masih tumbuh secara solid di tengah tantangan perekonomian global. Sebagaimana dikutip dari laporan resmi Bank Indonesia bertajuk “Analisis Perkembangan Uang Beredar Agustus 2026”, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan rincian pertumbuhan tersebut:

“Posisi M2 pada Agustus 2026 tercatat sebesar Rp10.448,0 triliun atau tumbuh sebesar 8,2% secara tahunan (year-on-year/yoy). Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar dalam arti sempit (M1) sebesar 9,1% (yoy) dan uang kuasi sebesar 6,8% (yoy),” ujar Ramdan Denny Prakoso.

Komponen M1, yang mencakup uang kartal di luar bank umum dan BPR, giro rupiah, serta tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu, menjadi salah satu pendorong utama ekspansi M2. Pertumbuhan M1 mengindikasikan tingginya kebutuhan masyarakat dan pelaku usaha akan uang tunai serta simpanan yang likuid untuk mendukung transaksi harian.

Di sisi lain, ekspansi likuiditas perekonomian ini juga tidak lepas dari kinerja intermediasi perbankan yang terus bergerak positif. Merujuk pada publikasi laporan finansial Bank Indonesia (“Perkembangan Likuiditas Perekonomian M2 Agustus 2026”), Ramdan menjelaskan bahwa penyaluran kredit perbankan serta tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat menjadi motor penggerak pertumbuhan dana tersebut:

“Perkembangan M2 pada Agustus 2026 terutama dipengaruhi oleh perkembangan penyaluran kredit dan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus). Penyaluran kredit pada Agustus 2026 tumbuh sebesar 10,4% (yoy), relatif stabil dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya,” lanjut Ramdan.

Sementara itu, tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus) tumbuh sebesar 12,5% (yoy), berbalik arah atau meningkat signifikan dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan Juli 2026 yang sebesar 4,6% (yoy). Peningkatan tagihan bersih kepada pemerintah ini sejalan dengan penyerapan dan realisasi belanja negara dalam program pemulihan serta pembangunan infrastruktur ekonomi.

Sedangkan untuk aktiva luar negeri bersih (net foreign assets), Bank Indonesia mencatat adanya kontraksi atau pertumbuhan negatif sebesar 1,1% (yoy) pada bulan Agustus 2026. Meskipun demikian, stabilitas pasokan uang beredar di dalam negeri tetap terjaga dengan baik berkat kuatnya permintaan kredit domestik.

Dengan data capaian Rp10.448 triliun ini, Bank Indonesia menilai daya beli masyarakat dan kapasitas likuiditas sektor keuangan berada dalam kondisi yang memadai untuk menopang pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan hingga akhir tahun.

Scroll to Top