Sektor Ritel Diuji: BPS dan BI Catat Pengetatan Belanja Rumah Tangga untuk Kebutuhan Sekunder dan Tersier

JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) bersama Bank Indonesia (BI) mencatat tren perubahan pola konsumsi masyarakat yang kian berhati-hati. Laporan kondisi ekonomi terkini menunjukkan adanya pengetatan belanja rumah tangga secara signifikan pada kelompok barang sekunder dan tersier, sementara porsi pengeluaran masih didominasi oleh kebutuhan pokok dan pangan.

Dalam rilis resmi gabungan yang dipublikasikan pada Senin, 28 September 2026, pukul 11.00 WIB, BPS dan Bank Indonesia mengindikasikan bahwa masyarakat kelas menengah cenderung menahan belanja non-esensial sebagai bentuk mitigasi atas ketidakpastian kondisi ekonomi riil dan ketatnya pasar kerja.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS menggarisbawahi perubahan perilaku konsumen ini dalam konferensi pers di Jakarta.

“Data survei konsumen menunjukkan adanya pergeseran prioritas yang jelas, di mana masyarakat lebih memprioritaskan alokasi anggaran untuk kebutuhan bahan pangan utama dan tabungan, sembari menekan pengeluaran untuk rekreasi, pakaian, serta barang elektronik,” ujar perwakilan BPS dalam rilis resminya yang diterbitkan pada Senin, 28 September 2026, pukul 11.45 WIB.

Fenomena pengetatan belanja ini memberikan tantangan tersendiri bagi pelaku industri ritel, pusat perbelanjaan, hingga sektor pariwisata domestik. Para pelaku usaha dituntut untuk merestrukturisasi strategi pemasaran dan penawaran harga agar tetap mampu menarik minat beli masyarakat di tengah penurunan pendapatan riil.

Menanggapi laporan tersebut, Bank Indonesia menekankan pentingnya menjaga kestabilan tingkat inflasi agar daya beli masyarakat tidak makin tergerus. Di sisi lain, asosiasi bisnis mengimbau para pelaku usaha di sektor sekunder dan tersier untuk lebih inovatif dalam menghadirkan paket produk yang ekonomis serta memanfaatkan efisiensi operasional berbasis digital.

Sinergi antara kebijakan moneter yang terukur dari Bank Indonesia, penguatan jaring pengaman sosial oleh pemerintah, serta fleksibilitas sektor riil diharapkan dapat menjaga tingkat konsumsi rumah tangga tetap solid sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Scroll to Top